 | Ivan's | Feb 16, 2008 |
 | Ummati.. | Mar 13, '08 7:40 PM for everyone |
Napoleon Bonaparte adalah seorang petarung besar yang disebut sebagai Singa Prancis. Ia tidak kenal takut di medan perang. Ia amat mencintai negeri dan bangsanya. Dan senantiasa mengagung-angungkan bendera negaranya. Tetapi, akhir nasibnya sangat mengenaskan. Ia ditangkap dan dibuang ke Pulau Elba, sebuah pulau kecil dan terpencil. Di sana Napoleon diserang penyakit malaria yang tak kenal kasihan. Sakitnya parah dan tidak terobati. Dalam sekaratnya, nama siapakah yang diucap-ucap oleh pemimpin besar itu? Apakah bangsanya, negaranya, atau rakyatnya, yang konon sangat dicintainya? Bukan. Waktu mau mati Napoleon Bonaparte justru memanggil-manggil nama kekasih hatinya, “Josephine… Josephine… Josephine…” Lalu, siapakah yang tidak mengenal Adolf Hitler, sang Fuhrer dari Jerman yang amat ditakuti? Bila matanya menatap tajam, berarti darah mengalir. Bila telunjuknya menuding, berarti ratusan ribu manusia tidak berdosa dibantai di kamar gas. Bila mulutnya berteriak, berarti ratusan bom meledak, menghancurkan gedung-gedung dan menimbulkan ratap tangis. Ia mengaku paling jaya. Ia menganggap bangsanya kaum Aria adalah ras yang paling mulia. Ia merasa berhak menyebarkan maut dan malapetaka. Tetapi apa yang terjadi pada waktu ia sudah dikalahkan dan bersembunyi di dalam sebuah bunker gelap di kota Berlin? Apakah sebelum melakukan bunuh diri ia memeluk bendera Swastika yang dipujanya? Apakah ia menyebut-nyebut negeri dan bangsa Jerman yang konon dicintainya? Tidak. Yang disebut-sebut namanya oleh Hitler tatkala hendak nekat menembak dirinya adalah Eva Braun.. Eva Braun.. Eva Braun.., kekasihnya. Tidak demikian yang tercatat dalam detik-detik penghabisan seorang pemimpin besar lainnya, Nabi Muhammad saw. sang kekasih Allah, yang kedatangannya merupakan rahmat bagi seisisi alam. Waktu hendak wafat yang diseru-seru lewat bibirnya yang keluar bukan anak tercintanya, Fatimah, bukan cucu-cucunya tersayang, dan bukan pula istrinya. Rasulullah justru memanggil-manggil, “Umatku…Umatku…” Dengan mengucap-ucap umatnya itulah beliau meninggalkan dunia yang fana ini. Cintanya kepada umatnya dibawanya hingga ke liang lahat dan ke dalam alam keabadian. Suatu hari Nabi Idris alaihissalam (a.s) meminta malaikat Izrail untuk mencabut nyawanya. "Aku punya keinginan kepadamu," pinta Nabi Idris a.s kepada Izrail. "Apa itu," jawab Izrail. "Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Alloh SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku", Pinta Nabi Idris a.s.
"Tanpa seizin Alloh, aku tak dapat melakukannya", tolak Malaikat Izrail. Pada saat itu pula Alloh SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s. Dengan izin Alloh Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah itu beliau wafat.
Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Alloh SWT agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali. Alloh mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan Allah Nabi Idris a.s. hidup kembali. "Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku?" Tanya Malaikat Izrail. "Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti," jawab Nabi Idris a.s. "Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu, "kata Malaikat Izrail. MasyaAlloh, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi Idris a.s. Bagaimanakah jika sakaratul maut itu, datang kepada kita? Siapkah kita untuk menghadapinya ?
Cinta luar biasa.. Cinta seorang Kekasih kepada umatnya.. Hingga pada hembusan nafasnya yang terakhir.. Lidah Rasulullah menuturkan tanpa henti.. Ummati.. ummati.. ummati.. Cinta luar biasa.. Kisah cinta Handzalah.. Meninggalkan isteri di malam pernikahan.. Lantaran menyahut seruan jihad.. Akhirnya syahid di medan perjuangan..
Cinta luar biasa.. Seteguh kasih Khadijah.. Tak pernah jemu memberikan sokongan.. Rela mengorbankan segala kemewahan.. Di saat Rasulullah dan Islam dipinggirkan. .
Cinta luar biasa.. Kisah kesetiaan Abu Bakar.. Kasih seorang sahabat yg tiada tandingan.. Insan yang sentiasa membenarkan. . Sewaktu kata-kata Rasulullah dipersendakan. .
Cinta luar biasa.. Kisah ketabahan Hajar.. Ditinggalkan di tanah yang gersang bersama Ismail.. Bukti kasih seorang ibu yg berlarian mencari air.. Tatkala mendengar tangisan si anak kecil..
Cinta luar biasa.. Umpama keberanian Ali.. Di malam penghijrahan Nabi.. Menggantikan Rasulullah di tempat tidurnya.. Walaupun jiwa menjadi taruhan..
Cinta luar biasa.. Cinta Asiah, Masyitah dan Sumaiyyah.. Menggadaikan nyawa demi mempertahankan aqidah.. Iman di dada tak sedikit pun goyah.. Kerana keyakinan yang teguh atas segala janjiNya.. Kisah cinta luar biasa.. Insan pilihan yg berada di atas jalanNya.. Betapa tulusnya kasih, teguhnya jiwa.. Redha dan sabar menempuh segala ujian.. Merekalah insan yg memahami erti kemanisan iman.
 | Ujian | Feb 28, '08 8:41 AM for everyone |
Nabi SAW bersabda: إِنَّ ثَلَاثَةً فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ أَبْرَصَ وَأَقْرَعَ وَأَعْمَى فَأَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مَلَكًا.....الخ “Sesungguhnya ada tiga orang dari kaum Bani Israil, yaitu orang sopak (yakni belang-belang kulitnya), orang botak dan orang buta. Allah hendak menguji mereka itu, kemudian mengutus seorang malaikat kepada mereka. Ia mendatangi orang sopak lalu berkata: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ “Apa yang paling kamu senangi?” Orang sopak berkata: “Warna yang baik dan kulit yang bagus, juga lenyaplah kiranya penyakit yang menyebabkan orang-orang merasa jijik padaku ini.” Malaikat itu lalu mengusapnya dan lenyaplah kotoran-kotoran itu dari tubuhnya dan dikaruniai warna yang baik dan kulit yang bagus. Malaikat itu berkata pula: فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ “Harta macam apakah yang amat tercinta bagimu?” Orang itu menjawab: “Unta.” Ia lalu dikaruniai unta yang bunting, kemudian malaikat berkata: “Semoga Allah memberi keberkahan untukmu dalam unta ini.” Malaikat itu seterusnya mendatangi orang botak, kemudian berkata: “Keadaan yang bagaimanakah yang amat tercinta bagimu?” Orang botak berkata: “Rambut yang bagus dan lenyaplah kiranya apa-apa yang menyebabkan orang-orang merasa jijik padaku ini.” Malaikat itu lalu mengusapnya dan lenyaplah botak itu dari kepalanya dan ia dikarunia rambut yang bagus. Malaikat berkata pula: “Harta macam apakah yang amat tercinta bagimu?” Ia berkata: “Lembu.” lapun lalu dikarunia lembu yang bunting dan malaikat itu berkata: “Semoga Allah memberikan keberkahan untukmu dalam lembu ini.” Akhirnya malaikat itu mendatangi orang buta lalu berkata: “Keadaan bagaimanakah yang amat tercinta bagimu?” Orang buta menjawab: “Yaitu hendaknya Allah mengembalikan penglihatanku padaku sehingga aku dapat melihat semua orang.” Malaikat lalu mengusapnya dan Allah mengembalikan lagi penglihatan padanya. Malaikat berkata pula: “Harta macam apakah yang amat tercinta bagimu?” Ia menjawab: “Kambing.” lapun dikarunia kambing yang bunting -hampir beranak-. Yang dua ini -unta dan lembu- melahirkan anak-anaknya dan yang ini -kambing- juga melahirkan anaknya. Kemudian yang seorang yang sopak mempunyai selembah penuh unta dan yang satunya lagi -yang botak- mempunyai selembah lembu dan yang lainnya lagi -yang buta- mempunyai selembah kambing. Malaikat itu lalu mendatangi lagi orang -yang asalnya- sopak dalam rupa seperti orang sopak itu dahulu keadannya -yakni berpakaian serba buruk- dan berkata: “Saya adalah orang miskin, sudah terputus semua sebab-sebab untuk dapat memperoleh rezeki bagiku dalam bepergianku ini. Maka tidak ada yang dapat menyampaikan maksudku pada hari ini kecuali Allah kemudian dengan pertolonganmu pula. Saya meminta padamu dengan atas nama Allah yang telah mengaruniakan padamu warna yang baik dan kulit yang bagus dan pula harta yang banyak, sudi kiranya engkau menyampaikan maksudku dalam bepergianku ini untuk sekedar bekal perjalanannya.” Orang sopak itu menjawab: “Keperluan-keperluanku masih banyak sekali.” Jadi enggan memberikan sedekah padanya. Malaikat itu berkata lagi: “Seolah-olah saya pernah mengenalmu. Bukankah engkau dahulu seorang yang berpenyakit sopak yang dijijiki oleh seluruh manusia, bukankah engkau dulu seorang fakir, kemudian Allah mengaruniakan harta padamu?” Orang sopak dahulu itu menjawab: “Semua harta ini saya mewarisi dari nenek-moyangku dulu dan merekapun dari nenek-moyangnya pula.” Malaikat berkata pula: “Jikalau engkau berdusta dalam pendakwaanmu yang menyebutkan bahwa harta itu adalah berasal dari warisan, maka Allah pasti akan menjadikan engkau kembali seperti keadaanmu semula. Malaikat itu selanjutnya mendatangi orang -yang asalnya-botak, dalam rupa -seperti orang botak dulu- dan keadaannya yang hina dina, kemudian berkata kepadanya sebagaimana yang dikatakan kepada orang sopak dan orang botak itu menolak permintaannya seperti halnya orang sopak itu pula. Akhirnya malaikat itu berkata: “Jikalau engkau berdusta, maka Allah pasti akan menjadikan engkau kembali sebagaimana keadaanmu semula.” Seterusnya malaikat itu mendatangi orang -yang asalnya- buta dalam rupanya -seperti orang buta itu dahulu- serta keadaannya yang menyedihkan, kemudian ia berkata: “Saya adalah orang miskin dan anak jalan sedang bepergian dan kehabisan bekal, sudah terputus semua sebab-sebab untuk dapat memperoleh rezeki bagiku dalam bepergianku ini, maka tidak ada yang dapat menyampaikan maksudku pada hari ini, kecuali Allah kemudian dengan pertolonganmu pula. Saya meminta padamu dengan atas nama Allah yang mengembalikan penglihatan untukmu yaitu seekor kambing yang dapat saya gunakan untuk menyampaikan tujuanku dalam bepergian ini.” Orang buta dahulu itu berkata: قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللَّهُ إِلَيَّ بَصَرِي فَخُذْ مَا شِئْتَ وَدَعْ مَا شِئْتَ فَوَاللَّهِ لَا أَجْهَدُكَ الْيَوْمَ شَيْئًا أَخَذْتَهُ لِلَّهِ “Saya dahulu pernah menjadi orang buta, kemudian Allah mengembalikan penglihatan padaku. Maka oleh sebab itu ambillah mana saja yang engkau inginkan dan tinggalkanlah mana saja yang engkau inginkan. Demi Allah saya tidak akan membuat kesukaran padamu pada hari ini dengan sesuatu yang engkau ambil karena mengharapkan keridhaan Allah ‘Azzawajalla.” Malaikat itu lalu berkata: أَمْسِكْ مَالَكَ فَإِنَّمَا ابْتُلِيتُمْ فَقَدْ رُضِيَ عَنْكَ وَسُخِطَ عَلَى صَاحِبَيْكَ “Tahanlah hartamu -artinya tidak diambil sedikitpun- sebab sebenarnya engkau semua ini telah diuji, kemudian Allah telah meridhai dirimu dan memurkai pada dua orang sahabatmu -yakni si supak dan si botak-” (Muttafaq alaih) (HR. Bukhori - 3205, HR. Muslim - 5265) Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta.
Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.
Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara.
Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta . Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.
Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa.
Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.
Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta . Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.
Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus.
Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.
Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
''Pak, saya mau mengambil tabungan,'' kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
''O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?''
''Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.''
''Mau ambil berapa?'' tanya saya.
''Enam ratus ribu, Pak.''
''Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?''
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
''Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.''
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.
''Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?''
''Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.''
''Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita."
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.
Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri.
"Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?" Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu.
Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji. Konon, ada seorang Pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ke tanah air. Sesampainya dirumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang guru agama, kiai atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. AkhirnyaOrang tua Pemuda itu mendapatkan orang tersebut. Pemuda: Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan - pertanyaan saya? Kyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda. Pemuda: Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya. Kyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya Pemuda: Saya punya 3 buah per tanyaan 1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya! 2. Apakah yang dinamakan takdir? 3. Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api,tentu tidak menyakitkan buat syetan sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu? Tiba-tiba Kyai tersebut menampar pipi si Pemuda dengan keras. Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah kepada saya? Kyai : Saya tidak marah...Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya Pemuda: Saya sungguh-sungguh tidak mengerti. Kyai Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya? Pemuda: Tentu saja saya mera sakan sakit. Kyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada? Pemuda: Ya. Kyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu ! Pemuda: Saya tidak bisa Kyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama: kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujud nya. Kyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya? Pemuda: Tidak. Kyai : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini? Pemuda: Tidak. Kyai : Itulah yang dinamakan Takdir Kyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda? Pemuda: kulit. Kyai : Terbuat dari apa pipi anda? Pemuda: kulit. Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya? Pemuda: sakit Kyai : Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, Jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan Menjadi tempat menyakitkan untuk syeitan. Pemuda: !!!!! Selama ini yang namanya bau kan hanya bisa dicium. Nah, bagaimana ya kalau bau juga bisa dilihat? Mungkin tubuh kita terlihat seperti dikelilingi kabut, atau kentut mungkin akan terlihat seperti uap dari cerobong asap. Khayalan tersebut mungkin suatu saat terwujud. Setidaknya, saat ini para peneliti sudah bisa membuat bau dapat dilihat. Para ilmuwan di AS memanfaatkan teknologi inframerah untuk melihat bau. Tenik melihat bau bukanlah tujuan akhir penelitian di sana. Mereka harus mengembangkan metode tersebut untuk mempelajari kemampuan indera penciuman larva lalat buah (Drosophyla melanogaster) untuk melacak bau. Lalat buah diketahui memiliki dua organ penciuman. Dalam penelitian yang dimuat jurnal Nature Neuroscience edisi terbaru terungkap bahwa larva lalat yang memiliki dua rgan penciuman lebih mudah menemukan sumber bau daripada lalat hasil rekayasa yang hanya memiliki satu organ penciuman. Bahkan, pengamatan pada otaknya memastikan bahwa organ ganda tidak hanya digunakan untuk menemukan sumber bau, tetapi juga membantu navigasi. Untuk mempelajari kemampuan yang disebut kemotaksis ini, para peneliti harus mengetahui jalur konsentrasi bau yang diikuti lalat. Nah, karena bau tak dapat dilihat, mereka tidak dapat memastikan apakah lalat bergerak sesuai arah konsentrasi bau. Mereka juga tidak dapat mengetahui apakah bau terkonsentrasi pada lokasi-lokasi tertentu atau berupa garis. "Kami harus melihat bau," ujar Leslie Vosshall, kepala Laboratorium Neurogenetik dan Perilaku, Universitas Rockefeller, New York, AS. Ia membutuhkan lingkungan yang memperlihatkan susunan spasial dari bau yang memenuhinya. Berkolaborasi dengan koleganya, Thomas P. Sakmar, dari Laboratorium Biologi dan Biokimia, Vosshall dapat memanfaatkan teknik spektroskopi inframerah untuk melihat, mengatur, dan mengukur distribusi bau di sebuah ruangan. Saat dipakai untuk mengamati perilaku lalat, ditemukan bahwa satu atau dua organ penciuman tetap dapat digunakan untuk menemukan sumber bau. Namun, hanya lalat dengan organ penciuman stereo yang dapat melakukan navigasi dengan akurat. Di salah satu desa terpencil hiduplah seorang kakek yang miskin, tetapi dia tidak melupakan kewajibannya terhadap sang pencipta. Kondisi rumahnya yang di pigguran jalan kereta Api sudah tidak layak lagi dihuni, setiap kali kereta api lewat seakan-akan mau terbawa rumah si Kake itu. Dia pun sudah berniat mau merenopasi rumahnya tersebut. Maka dipanggilah tukang bangunan untuk menghitung biaya yang diperlukan unuk merenopasi rumahnya itu. Setelah menghitung-hitung bicaralah si tukang bangunan itu pada si kakek. “pak, biaya untuk memperbaiki rumah bapak ini kurang lebih satu juta rupiah” , terkejutlah si kakek tadi, uang satu juta harus didapat dari mana. Sedangkan untuk makan sehari-hari saja sudah membuat repot. Ke esokan harinya selepas sholat subuh dia menulis surat yang isinya sebagai berikut : “Ya Alloh saya sering mendengar diceramah-ceramahnya para ustadz bahwa kamu adalah tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang,sekarang saya membutuhkan uang sebesar satu juta untuk merenopasi rumah jika kamu memag benar berilah uang sebanyak itu.” Surat tersebut dialamatkan kepada Alloh SWT dimana saja berada, karena dia tahu bahwa alloh itu ada dimana-mana dan dibelakangnya ditulis alamat sipengirim dengan lengkap. Kemudian dimasukanlah surat itu ke kotak pos dekat kantor kecamatan. Besoknya datanglah tukang pos mengambil surat-surat yang ada di kotak pos tersebut, kemudian diseleksilah surat-surat tersebut berdasarkan alamat, giliran surat sikakek tua itu tukang pos kebingungan, masalahnya diamplop surat tertulis alamatnya “kepada Yth Alloh SWT dimana saja berada” berhubung alamatnya tidak jelas maka tukang pos tersebut memberikannya pada kantor kecamatan yang kebetulan tidak jauh letaknya dengan kantor pos. Setelah menerima surat dari kantor pos Pak Camatpun heran dan bingung melihat surat tersebut, setelah rapat pagi camat membuka surat itu dihadapan para stafnya, kemudian dibaca isi surat tersebut, dan pak camat memberitahu isi surat pada hadirin yang hadir dan meminta pendapatnya. Suasana menjadi sepi setelah tertawa karna isi surat. Ada dari mereka yang member usulan “Pak kalau masalah uang kayaknya kita kasihkan saja sama Polisi, mereka lebih punya banyak uang”, kemudian pak camat pergi ke kantor polisi yang kebetulan juga tidak jauh letaknya. Suratpun sudah ada ditangan Pak Kapolsek, sama dengan di kantor kecamatan surat tersebut dibacakan oleh Kapolsek setelah rapat pagi, kemudian Kaposek memerintahkan asistennya memintakan sumbangan pada semua yang hadir. Setelah dihitung-hitung terkumpulah sebesar delapan ratus ribu rupiah dan dimasukan kedalam amplop rapi. Pagi hari kapolsek memerintahkan ajudannya mengantarkan uang ke alamat sipengirim surat itu. Si kakek merasa gembira setelah mengetahui suratnya telah dibalas, dibukanya surat balasan itu dan ternyata berisi uang sebesar delapan ratus ribu rupiah, dengan hati gembira walaupun sedikit kecewa karena jumblahnya tidak sesuai dengan permintaanya. Sikake menulis surat keduanya dengan alamat yang sama, yang isinya sebagai berikut: Tuhan Kau telah mengirim surat balasan melalui polisi, tapi mengapa Kau utus polisi untuk mengantarkan surat balasan itu makanya uang didalam Amplop itu berkurang dua ratus ribu. Sedangkan saya minta satu juta, mungkin yang dua ratusnya dimakan polisi itu.  | Ivan's | Feb 16, '08 9:30 PM for everyone |
|  | Ya Allah, Berikanlah Kami Anak yang Sholeh |
 | Guestbook | |
 | van...dos pundi pawartosipun? inget ga, klu masi punya hutang ke nduk? hehehe... |
 | thanks nduk, udah kasih komen. namun pertanyaan itu lebih tepatnya diarahkan ke kyainya langsung, shg sy no comment nduk...afala ta'qiluun |
 | tentang eksistensi Tuhan. Memang realistis, tapi masi menimbulkan pertanyaan yang berkecamuk di kepala (kepalaku lho vans…). Sederhana, tapi kurang mengena bagi mereka yang benar2 tengah mencari Tuhan. Pemikiran, hati, jiwa dan raga selalu mengalami ritme yang fluktuatif. Tentang keinginan menyelami keberadaan diri sendiri, juga ikatannya dengan Tuhan. Dan apakah penjelasan itu mampu mensejajarkan makna darinya dengan ritme tersebut? Eh..kalu si pemuda Tanya tentang jahannam, apa kyai tsbt akan tunjukin juga gambaran penyiksaan di jahannam ya vans…(?) hehehe…
|
 | ivaaannnnnnnnnnnnnnnnnnnn....! |
| |